Berbeda Dengan Indonesia, Harga Ubi di Jepang Relatif Mahal

Ubi - (Photo: falco)
Ubi - (Photo: falco)

Ubi merupakan salah satu jenis tumbuhan yang banyak diproduksi oleh petani di beberapa daerah di Indonesia. Masyarakat umumnya mengkonsumsi ubi sebagai penganan pengganti nasi maupun hidangan saat berbuka puasa, yaitu kolak ubi.

Budidaya tumbuhan ubi merupakan budidaya yang seringkali membuat kesal petani karena harganya yang mudah naik turun. Petani kerap rugi dengan turunnya harga ubi tersebut.

Ubi - (Photo: falco)
Ubi – (Photo: falco)

Seperti pada bulan Maret lalu, petani ubi di beberapa daerah kalang kabut karena harga ubi turun hingga Rp200 per kg.

Kerugian produksi ubi diyakini karena faktor cuaca seperti hujan, serangan hama wereng yang mengakibatkan produksi ubi tidak maksimal, serta harga di pasaran yang memang terus menurun. Keadaan tersebut berimbas pada petani sehingga kesulitan menggarap lagi lahannya karena biaya produksi yang tidak tercapai. Jenis ubi yang mengalami penurunan harga secara drastis adalah jenis ubi kasesa.

“Harga Rp200 per kilo itu harga bersih, kalau kotornya sekitar Rp500. Sebagai petani kan dak mungkin mau jual ke pabrik, itu tidak mungkin, malah nambah rugi. Harga Rp200 itu, harga di lahan, karena pembeli kan punya itung-itungan juga, misal harga di pabrik Rp500 per kilo, di potong Rp150 per kilo untuk upah nyabut, tinggal Rp300, di potong lagi sebesar 13 persen per kilonya, jadi itung-itung harga bersihnya yang kita terima Rp200, kalau harga ubi sudah terbenam begini, ya rugi lah petani,” ujar Sudi salah seorang petani ubi kasesa di Belinyu-Riausilip, Bangka.

Baca juga:  Profil dan Data Bandara Haluoleo di Kendari

Ubi kasesa yang dihargai Rp200 per kg ini, dianggap tidak memberikan untung pada petani, karena harga itu tidak seimbang dengan biaya bibit, garap lahan, perawatan, pupuk dan lainnya. Petani menjelaskan semisal satu hektar menghasilkan 2 ton, maka hasil penjualan ubi baru mengembalikan setengah dari modal.

Banyak petani ubi merasa kecewa dengan turunnya harga ubi tersebut, hingga tak sedikit dari mereka yang membabat habis seluruh pohon ubi kasesa yang sudah siap panen.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu petani ubi di Kabupaten Bangka bernama Sanuri. Lahan seluas satu hektar tersebut terpaksa ia babat habis dengan menyemprot lahan tanaman ubinya dengan racun rumput agar matinya ubi lebih cepat, karena kesal harga ubi tak kunjung mendapatkan kejelasan.

Baca juga:  Apa Saja Keunggulan Tanah di Indonesia?

Salah seorang petani lain yang senasib dengan Sanuri yaitu Arwan. “Buat apa dipelihara dan dirawat terus kalau batang ubinya nggak subur, belum lagi harga ubi sendiri juga murah seperti ini,” kata Arwan

Murahnya harga ubi yang terdapat di Indonesia, berbanding terbalik dengan harga jual ubi di . merupakan salah satu negara yang sangat menghargai hasil umbi umbian. Ubi dianggap sebagai simbol kemakmuran di negeri matahari terbit tersebut.

Di Indonesia, terdapat macam macam ubi seperti ubi jalar, ubi kasesa, ketela pohon, dan berbagai macam talas. Ubi adalah yang dianggap kelas bawah. Hal tersebut terbukti dengan murahnya harga ubi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan harga beras, beras memiliki harga kisaran Rp10 ribu per kilo sedangkan ubi memiliki harga kisaran Rp2500 per kilo.

Baca juga:  Anak Laki-Laki Berumur 11 Tahun ‘Menyulap’ Boneka Beruang Menjadi Mata-mata

Hal tersebut berbeda dengan negara Jepang yang memiliki harga ubi sepadan dengan harga besar yaitu sekitar Rp45 ribu per kilo. Sehingga muncul pula sikap penghargaan yang sama baik terhadap ubi maupun beras, yang berakibat petani ubi dan petani beras sama makmurnya.

Lebih dari itu, di Jepang ubi sudah menjadi barang industri dengan riset dan pengembangan yang terus menerus baik dari teknologi budidaya, teknologi proses hingga marketing yang saling terkait dan mendukung.