Global Warming, Perubahan Iklim Pembawa Kerugian dan Keuntungan

Kenaikan suhu menjadi 4 derajat lebih hangat membawa dampak kepada beberapa negara, diantaranya Polinesia telah tenggelam, Pakistan dan India Selatan menjadi wilayah yang terasingkan. Eropa perlahan berubah menjadi gurun pasir.

Global Warming - www.nationalgeographic.com

Global Warming - www.nationalgeographic.com

Selain kabar buruk, angin segar dari fenomena tersebut adalah Antartika Barat tidak lagi ber-es dan tidak dapat dihuni. Kanada Utara, Skandinavia dan Siberia memproduksi hasil panen yang berlimpah sebagai bahan makanan untuk berjuta pengungsi yang sekarang menganggap daerah tersebut menjadi rumahnya.

Peta ini menggambarkan dampak dari kenaikan suhu sebesar 4 derajat pada rata-rata temperatur di dunia. Hal ini sudah terjadi selama delapan tahun, tetapi sepertinya masih akan terus berlangsung.

Di sebagian besar peta, Antartika digambarkan berwarna putih dengan es dan salju. Keadaan ini berubah menjadi berwarna hijau. Dalam hitungan minggu, ada laporan menyebutkan bahwa memang benar Antartika berubah menjadi hijau.

Beberapa peneliti meyakini bahwa perubahan suhu sudah terjadi. Tetapi, menyebutkan masih mempunyai waktu, walaupun sulit, untuk mengatasi global warming, sebagai bagian dari penolakan dampak buruk seperti yang telah diprediksikan.

Peta di atas menawarkan dua alternatif, yaitu kehilangan kesengsaraan dan bencana, tetapi juga menumbuhkan harapan dan solusi. Bukan solusi yang membawa Anda kembali ke beberapa dekade sebelumnya, tetapi solusi yang bermanfaat untuk ke depannya.

Baca juga:  Alasan Psikologis Kenapa Orang Cerdas Punya Teman Lebih Sedikit

Diawali dengan kabar buruk. Brown mengindikasikan kategori lingkungan yang tidak dapat dihuni dikarenakan banjir yang membawanya kepada cuaca ekstrem. Hal ini sudah terjadi di Eastern Seaboarddi Amerika, Meksiko dan Amerika Pusat, bagian tengah ketiga dari Amerika Selatan. Di Afrika, Mozambik dan Madagaskar telah tenggelam. Sedangkan di Asia, India kehilangan banyak benua yang dimiliki, termasuk Pakistan; Indocina menjadi bagian terasing, seperti yang banyak terjadi di .

Para peneliti yang mempelajari perubahan iklim telah mengamati bagaimana perubahan biologis dan fisik yang terjadi di Bumi karena perubahan iklim akan mengubah produksi pangan dan berdampak pada kesehatan manusia.

Hasil penelitian mereka disampaikan dalam Climate & Health Meeting. Perubahan iklim dapat mempengaruhi pasokan pangan dunia dalam tiga aspek, yaitu kuantitas, kualitas dan lokasi.

Perubahan iklim mempengaruhi determinan dan lingkungan kesehatan, seperti kekurangan air dan udara yang bersih, tidak cukupnya produksi pangan mengakibatkan banyaknya kelaparan serta semakin sedikit lingkungan yang layak dihuni.

Pada akhirnya, semua ini akan memicu timbulnya beragam penyakit, mulai dari malanutrisi, sakit kulit, hingga gangguan napas, menurunnya tingkat kesuburan hingga kelainan perkembangan otak bayi.

Global warming tentunya berdampak bagi kenaikan air laut. Pengukuran satelit terbaru mengungkapkan bahwa selama abad terakhir, permukaan air laut dunia telah meningkat antara 10-20cm. Tingkat kenaikan permukaan laut dalam dua dekade terakhir mencapai 3,2 mm per tahun, dua kali lipat dari kecepatan rata-rata 80 tahun sebelumnya.

Baca juga:  Hashtag #MuslimsReportStuff, Sindiran Umat Muslim kepada Donald Trump

Kenaikan permukaan air laut disebabkan tiga faktor utama yang terkait dengan pemanasan global, yaitu:

  • Ekspansi termal : Ketika suhu memanas, air laut akan memuai. Sekitar setengah kenaikan permukaan laut di abad lalu disebabkan oleh lautan hangat yang berupaya menempati lebih banyak ruang.
  • Melelehnya gletser dan tudung es kutub : Formasi besar es seperti gletser dan tudung es kutub secara alami meleleh tiap musim panas. Kini, kenaikan suhu menyebabkan pencairan musim panas menjadi lebih besar, sekaligus mengurangi jumlah salju yang turun pada musim dingin selanjutnya, dan mempercepat datangnya musim semi.
  • Hilangnya es dari Greenland dan Antartika Barat : Peningkatan panas juga menyebabkan lapisan es raksasa yang menyelimuti Greenland dan Antartika meleleh lebih cepat. Pemanasan suhu mengakibatkan lapisan es raksasa yang membentang dari Antartika, meleleh dari bawah, melemah, hingga akhirnya pecah.

Sebenarnya, dampak pemanasan global tidak selalu negatif. Di Australia, ilmuwan melihat bahwa perubahan yang terjadi di Pantai Barat Australia berdampak pada karang yang ada di bawahnya. Mereka juga menyebutkan bahwa air asin berlebih di atas terumbu karang, berpotensi mengurangi suhu secara signifikan.

Baca juga:  Fakta Tersembunyi Tentang Bahtera Nuh

Dengan mempelajari efek di area Kimberley, para ahli dari University of Western Australia mendesain model untuk memprediksi air laut dunia yang akan meningkat sebanyak 1,5 meter di masa depan.

Perairan di sekitar Kimberley melihat pasang surut paling ekstrem di dunia mampu mencapai 12 meter. Lowe, peneliti di Australia beserta tim nya melakukan penelitian untuk melihat variasi pasang surut dan dampaknya terhadap terumbu karang.

Selama penelitian di lapangan, suhu yang didapat mencapai lebih dari 10 derajat Celsius. Bahkan semakin tinggi menjadi 38 derajat Celsius. Kombinasi pasang surut yang rendah dan posisi Matahari yang tepat berada di atas ketika siang hari, menyebabkan suhu menjadi tinggi.

“Meningkatnya level air laut mampu merendahkan suhu karang dan mungkin mengurangi panas ekstrem karang,” ujar Lowe.

Suhu air sangat penting bagi karang, karena panas menyebabkan spesies menjadi stres, dan mematikan alga yang hidup di dalamnya. Jika suhu tidak kembali ke posisi normal secepatnya, karang akan tumbuh tanpa nutrisi yang diproduksi oleh alga. Keuntungan dari meningkatnya level air laut mungkin hanya akan dirasakan oleh terumbu karang lewat pasang surut laut.

author
No Response

Leave a reply "Global Warming, Perubahan Iklim Pembawa Kerugian dan Keuntungan"