Great Barrier Reef, Ekosistem Terumbu Karang Terbesar di Dunia yang “Telah Mati”

Great Barrier Reef merupakan salah satu kekayaan alam paling spektakuler yang ada di muka bumi. Sayangnya, ekosistem terumbu karang terbesar di tersebut diklaim telah mati setelah berusia lebih dari 25 juta tahun. Seorang penulis di majalah Outside, Rowan Jacobsen, menyatakan terumbu karang yang berada di wilayah Australia itu telah tiada pada tahun 2016 ini.

Great Barrier Reef - www.salon.com

Great Barrier Reef - www.salon.com

 

“Great Barrier Reef di Australia telah mati di tahun 2016 setelah sakit yang lama. Ekosistem ini berumur 25 juta tahun,” tulis Jacobsen. “Perubahan iklim dan pengasaman air laut telah membunuh salah satu fitur paling spektakuler di planet ini.”

Great Barrier Reef sendiri merupakan struktur karang terbesar di dunia dan satu-satunya yang bisa terlihat dari ruang angkasa. Ekosistem ini memiliki panjang 1.400 mil, dengan 2.900 terumbu dan 1.050 pulau. Secara total, Great Barrier Reef lebih luas dari wilayah Inggris dan berisi keanekaragaman hayati yang lebih kaya dari seluruh kekayaan alam di Eropa.

Terumbu karang tersebut menjadi rumah bagi 1.625 spesies ikan, 3.000 spesies moluska, 450 karang, 220 burung, dan 30 spesies paus serta lumba-lumba. Di samping itu, Great Barrier Reef juga menjadi rumah bagi salah satu populasi terbesar di dunia, yaitu dugong, dan menjadi tempat penyu hijau untuk berkembang biak.

Kekayaan alam ini dipercaya lahir selama zaman Miosen di pantai timur Benua Australia. Ekosistem ini dibentuk oleh karang dan hewan kecil seperti anemone. Seiring dengan permukaan air laut yang naik dan turun, karang ini membangun dirinya sendiri menjadi sebuah labirin besar hingga mencapai 1.400 mil di lepas pantai Australia.

Keindahan Great Barrier Reef mulai tercium dunia ketika Kapten James Cook menyentuh ekosistem ini pada tahun 1770. “Laut menyembunyikan sesuatu dari bawah dan batu tiba-tiba naik seperti piramida,” tulis Cook dalam jurnal perjalanannya.

Sayangnya, Queensland mencoba untuk mengeksploitasi seluruh karang untuk minyak dan pertambangan pada tahun 1960-an. Tindakan ini kemudian melahirkan gerakan konservasi pertama di Australia dan kampanye “Save Reef” memuncak pada tahun 1975.

Pada tahun 1981, UNESCO menetapkan Great Barrier Reef sebagai Situs Warisan Dunia dan menyebutnya  sebagai “wilayah laut yang paling mengesankan di dunia”.  Sayangnya, di tahun yang sama, suhu air melonjak, dua-pertiga dari karang di bagian dalam mulai keropos, dan curiga bahwa perubahan iklim mengancam terumbu karang dengan yang tidak dapat dicegah.

Di pergantian milenium, pemanasan air laut ternyata bukan satu-satunya ancaman yang dibawa perubahan iklim. Sebagian lautan menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer dan menjadikan air laut menjadi lebih asam dan sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Great Barrier Reef.

Akan tetapi, klaim kematian tersebut disanggah oleh pengelola Great Barrier Reef. Menurut penelitian terbaru mereka, hanya sekitar 22-25 persen bagian Great Barrier Reef yang mati akibat pemutihan karang terparah sejak ekosistem ini ditemukan tahun 1950 lalu. Pengelola Great Barrier Reef juga menambahkan bila bagian lain ekosistem terumbu karang itu tidak dalam kondisi terancam.

Meski demikian, klaim kematian dari Jacobsen harus tetap diperhatikan. Sebab, berdasarkan penelitian dari James Cook University pada April 2016 lalu, 93 persen kawasan Great Barrier Reef terkena dampak pemutihan karang yang bisa berujung pada kematian massal karang di sana.

Baca juga:  Arti, Jenis, dan Cara Menghitung Biaya Overhead Pabrik
author
No Response

Leave a reply "Great Barrier Reef, Ekosistem Terumbu Karang Terbesar di Dunia yang “Telah Mati”"