Iklan Minuman Energi Tunjukkan Kebenaran yang Tidak Menyenangkan Dalam Masyarakat Thailand

Bangkok, sebuah iklan televisi untuk berenergi telah menjadi fenomena sosial di Gajah putih tersebut karena menggambarkan elit yang direndahkan, untuk menyenangkan sebagian besar orang di tersebut.

Iklan Minuman Energi Thailand - asia.nikkei.com

Iklan Minuman Energi Thailand - asia.nikkei.com

Dalam sebuah iklan untuk Lipovitan D, produk dari produsen minuman berenergi Osotspa Taisho, menggambarkan seorang wanita muda kaya sedang mengemudikan sebuah sport mewah melaju ke garasi dan parkir di tempat yang sudah ditandai dengan tanda kursi roda untuk orang cacat. Seorang penjaga keamanan terlihat kesal, namun tidak seorangpun yang protes dengan tingkah wanita tersebut. Sampai ada salah satu dari mereka yang akhirnya menghampiri wanita tersebut dan berkata: “Silakan parkir di lantai tiga,”.

Baca juga:  Arti, Ciri, dan Cara Menghitung Biaya Peluang

“Anda tahu siapa ayah saya?,” jawab wanita tersebut dengan nada yang tidak sopan.

Namun penjaga tersebut tidak bergeming. Kemudian banyak orang yang menyaksikan adegan tersebut merekam dengan ponsel mereka, membuat wanita itu nampak risih dan akhirnya pergi. Layar terfokus pada wajah gagah penjaga, dan iklan berakhir dengan logo Lipovitan D.

Iklan yang semacam ini sangat jarang ditampilkan di Thailand, di mana didominasi oleh konglomerat dan kelas atas. Tak heran dengan munculnya iklan ini, banyak pemirsa yang terinsipirasi oleh iklan komersial tersebut, namun juga cemas dengan tokoh penjaga dalam iklan tersebut akan dipecat.

Komersial tersebut juga mengingatkan pemirsa akan pewaris yang menciptakan minuman berenergi pendahulunya, yaitu Red Bull - yang secara efektif diasingkan.

Baca juga:  Pelaku Terorisme dan Rasis: Bukan Cerminan Suatu Agama

Berkantor pusat di Austria, Red Bull, perusahaan di balik minuman senama yang populer, menciptakan produk minuman energi Thailand, Krating Daeng dengan keterlibatan Chaleo Yoovidhya, pengembang minuman energi. Klannya dikatakan menguasai 51% kerajaan Red Bull, membuat keluarga tersebut merupakan yang terkaya keempat di Thailand dengan aset sekitar 12,5 miliar dolar, menurut Forbes.

Pewaris, cucu dari pendiri Krating Daeng, pernah bermasalah dengan memukul dan membunuh seorang perwira polisi pada tahun 2012. Dia diduga bahkan menyalahkan insiden tersebut pada seorang pelayan dan menggunakan pengaruhnya terhadap polisi untuk menyapu insiden agar tidak dibebani hukuman.

Bahkan setelah kebenaran keluar, pria tersebut terus mengabaikan perintah untuk tampil di pengadilan, dan sepertinya kasusnya akan dilupakan, dengan dia telah melarikan diri ke luar negeri. Namun banyaknya protes atas perilaku pilih kasih polisi terhadap kaum elit, membuat Thailand akhirnya berusaha mencabut paspor pewaris Red Bull di bulan Mei.

Baca juga:  Arti dan Model “Intervensi”

Iklan komersial Lipovitan D ini menjadi viral lantaran didorong oleh skandal yang melibatkan persaingan bisnis sesama produsen minuman berenergi. Namun, pihak eksekutif rumah produksi iklan menganggap iklan tersebut adalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja.

Kesenjangan sosial antara elit kaya di Bangkok dan rakyat miskin pedesaan Thailand, memang menjadi sebuah kebenaran yang tersembunyi hingga memperparah perpecahan di negara yang tak asing dengan krisis politik itu.

author
No Response

Leave a reply "Iklan Minuman Energi Tunjukkan Kebenaran yang Tidak Menyenangkan Dalam Masyarakat Thailand"