Mengejutkan! Berdasarkan Hasil Penelitian, Otak Manusia Membangun Strukturnya Dalam 11 Dimensi

mempunyai kemampuan yang menakjubkan dengan berbagai kompleksitas di dalamnya. Akhir-akhir ini terdapat penelitian mengenai kombinasi neuroscience dan matematika yang memberikan kesimpulan bahwa manusia dapat memproduksi struktur sampai 11 dimensi ketika memproses informasi. Peneliti Henry Markram, direktur Blue Brain Project mengatakan bahwa Anda dapat menemukan dunia yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Otak Manusia - blog.act.id

Otak Manusia - blog.act.id

Neuroscience atau neurosains adalah yang mencoba mengungkap misteri otak. Namun, karena otak merupakan salah satu organ manusia yang penting serta menentukan kualitas hidup dan kehidupan seseorang, maka pengungkapan tersebut harus dilakukan dengan bantuan disiplin lainnya.

Otak adalah salah satu organ yang terbesar dan paling kompleks dalam tubuh manusia. Otak tersusun dari sejumlah jaringan pendukung dan 100 miliar lebih sel saraf  yang berkomunikasi dalam sistem dengan triliunan koneksi yang disebut sinaps. Tidak mengherankan jika otak disebut-sebut mempunyai fungsi yang kompleks.

Dikarenakan fungsi otak yang kompleks, kajian terhadap otak dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya harus melalui pendekatan lintas ilmu dan holistik, misalnya kesehatan, psikologi, teknologi, dan ilmu lainnya. Di penelitian ini dibantu dengan menggunakan disiplin ilmu matematika.

Salah satu bidang di matematika adalah aljabar yang dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika. Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur aljabar abstrak yaitu aljabar dalam sebuah bidang. Aljabar sendiri berasal dari Bahasa Arab, al-gabr yang berarti pertemuan atau hubungan.

Baca juga:  Arti dan Contoh Referensi

Tujuan dilakukannya Blu Brain Project yang berbasis di Switzerland adalah secara digital membuat simulasi detail secara biologi dari otak manusia. Dengan membuat digital otak manusiadengan tingkat biologis yang belum pernah ada sebelumnya, peneliti bertujuan untuk memberi pemahaman mengenai otak manusia yang terdiri dari 86 miliar saraf.

Otak Manusia - bigthink.com

Otak Manusia - bigthink.com

Untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai bagaimana hal tersebut bekerja menjadi sebuah tindakan maupun pikiran, peneliti menggunakan supercomputer dan cabang dari ilmu matematika. Mereka menyelidiki dengan menggunakan sistem aljabar. Hal ini membuat peneliti menentukan bahwa otak manusia secara konstan menghasilkan geometris bentuk dan ruang multidimensional yang terlihat seperti kastil terbuat dari pasir.

Tanpa adanya sistem aljabar, cabang matematika yang menjelaskan sistem dengan berbagai angka dari dimensi, visualisasi multidimensional menjadi hal yang tidak mungkin. Dengan menggunakan pendekatan matematis, memungkinkan peneliti melihat berapa tinggi derajat dari di dalam bentuk saraf yang rumit.

Kathryn Hees, seorang peneliti mengatakan bahwa aljabar seperti teleskop dan mikroskop dalam satu waktu yang sama. Hal ini dapat memperbesar jaringan sehingga memungkinkan melihat hal yang tersembunyi seperti pohon di suatu hutan dan ruang kosong di dalam waktu yang sama.

Peneliti awalnya menguji otak virtual dan mengkonfirmasi hasil dengan melakukan eksperimen yang sama di dalam otak tikus yang sebenarnya. Ketika distimulasi, saraf virtual berubah menjadi bentuk klik dengan masing-masing saraf terhubung di berbagai cara di mana objek geometris yang spesifik dapat terbentuk. yang besar dari neuron akan menjadi 11 dimensi. Struktur ini akan terbentuk di antara dimensional yang tinggi yang disebut dengan rongga. Setelah otak memproses informasi, klik dan rongga akan lenyap.

Baca juga:  Arti Chemistry dan Tanda-tandanya

Peneliti Ran Levi menjelaskan secara detail bagaimana proses ini berjalan dengan memberi gambaran seperti ini: munculnya rongga yang berdimensi tinggi ketika otak memproses informasi berarti bahwa saraf dalam jaringan akan memberikan reaksi yang menstimulasi di dalam cara yang terorganisir.

Hal tersebut sama dengan membangun beberapa blok yang dimulai dengan tongkat (1D), papan (2D), kotak (3D), kemudian menjadi geometris yang kompleks dengan 4D, 5D, dan seterusnya. Peneliti melihat penggunaan aljabar dalam penelitian ini adalah untuk menyelidiki peran dari sesuatu yang terlihat di mana proses ini diperkuat dan diperlemah ketika distimulasi, komponen kunci di dalam bagaimana otak bekerja.

Stimulasi otak dengan cara menanamkan elektroda, selain dapat menyelidiki bagaimana otak bekerja, hal ini juga dapat dikembangkan menjadi metode penyembuhan anoreksia nervosa yang parah.

Berdasarkan riset yang dilakukan di Kanada, setelah diterapkan pada 16 orang penderita anoreksia, para peneliti menemukan pengobatan melalui stimulasi otak dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi. Selain itu, pada sebagian kasus, berat badan pasien meningkat. Para peneliti mengatakan dibutuhkan riset lanjutan dan lebih besar sebelum terapi ini digunakan secara luas.

Baca juga:  Alasan Mengapa Mata Menangis Saat Mengiris Bawang

Penelitian ini melibatkan wanita berusia 21-57 tahun yang menderita anoreksia selama 18 tahun dan telah mencoba hampir semua pengobatan. Umumnya, berat badan mereka tidak normal dengan rata-rata body mass index (BMI) 13,8. Sedangkan rata-rata berat badan yang sehat memiliki skala BMI 18,5-24,9. Para peneliti mengatakan beberapa di antaranya mengalami risiko kematian lebih awal karena kondisi tersebut.

Pada awal riset, elektroda ditempatkan di area khusus dalam otak para penderita yang diperkirakan terkait dengan anoreksia. Dalam beberapa bulan, beberapa pasien yang merasakan gejala-gejala depresi dan kecemasan telah membaik. Dalam 12 bulan berikutnya, berat badan sejumlah pasien bertambah.

Rata-rata BMI kelompok ini meningkat dari 13,8 menjadi 17,3. Para peneliti juga membandingkan pemindaian otak sebelum dan pasca-setahun stimulasi listrik dan menemukan perubahan terus-menerus dalam area otak yang terkait dengan anoreksia.

Dr Nir Lipsman, ahli bedah otak (neurosurgeon) di Sunnybrook Health Sciences Center, mengatakan, saat ini tak ada satu pengobatan yang efektif untuk penderita anoreksia nervosa menahun. Ia berharap riset ini juga mengesahkan ide bahwa anoreksia adalah penyakit berbasis di otak, bukan masalah kepribadian atau gaya hidup.

author
No Response

Leave a reply "Mengejutkan! Berdasarkan Hasil Penelitian, Otak Manusia Membangun Strukturnya Dalam 11 Dimensi"