Pengertian dan Asal-Usul Ungkapan “Quo Vadis”

Ketika membaca media, baik itu cetak maupun , Anda pasti sering menemukan -istilah yang tergolong asing di telinga. Salah satu asing yang cukup banyak digunakan di media belakangan ini adalah “Quo Vadis”. Apa sebenarnya arti kata “Quo Vadis” tersebut?

quo vadis - simarmata.or.id

quo vadis - simarmata.or.id

 

Sebenarnya, “Quo Vadis” merupakan sebuah kalimat dari Latin yang diterjemahkan secara harfiah berati “kemana kau pergi?” Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan bagian apokrif kisah Santo Petrus, yaitu “Tuhan, kemana Engkau pergi?”

Kalimat tersebut merupakan ungkapan Kristiani yang menurut tradisi Gereja dilontarkan pada Yesus Kristus oleh Santo Petrus yang saat itu bertemu dengan Yesus dalam perjalanan hendak melarikan diri dari sebuah misi berisiko disalibkan di Roma. Yesus yang menjawab, “Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan kembali” membuat Petrus menyadari panggilannya dan ia pun berbalik kembali ke Roma, kemudian ia disalibkan secara terbalik dan menjadi martir di sana.

 

Baca juga:  Arti dan Contoh Sikap Tawadhu

Pada tahun 1602, cerita Santo Petrus yang bertemu Yesus tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah lukisan berjudul “Domine, Quo Vadis” oleh Annibale Caracci. Lukisan ini ditempatkan di National Gallery, London.

Lalu, pada tahun 1896, sebuah novel berjudul “Quo Vadis” terbit. Novel karya Henryk Sienkiewicz  itu bercerita tentang zaman Kaisar Romawi, Nero, juga dengan latar belakang pertemuan Yesus dengan Santo Petrus. Novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang diedarkan pada tahun 1951 dan mampu memenangkan ajang Golden Globe Award.

Secara garis besar, novel itu menceritakan tentang kekejaman Kaisar Nero yang memerintah Romawi pada tahun 60-an Masehi. Saat itu, pembunuhan besar-besaran ratusan ribu orang Kristen dianggap sebagai hiburan oleh Kaisar Nero dan warga Kota Roma. Konon saking banyaknya, orang Roma menjadi bosan melihat pembunuhan sehingga melahirkan “kreasi” baru cara memusnahkan orang, seperti ide gladiator atau membakar hidup-hidup di tiang salib sebagai penerang jalan dan taman.

Selain di luar negeri, istilah ini juga sering digunakan kalangan dalam negeri. Salah satu terkenal adalah buku berjudul “Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 192”  karya Kacung Marijan yang dirilis penerbit Erlangga pada tahun 1992 lalu.

author
No Response

Leave a reply "Pengertian dan Asal-Usul Ungkapan “Quo Vadis”"