Sistem Pendidikan di Jepang Bobrok, Tingkat Bunuh Diri Remaja Tinggi

Jepang dikenal sebagai salah satu maju di dunia. Dalam industri dunia, ini memiliki banyak besar berskala internasional, sebut saja Honda, Toyota, Sony, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, hingga Casio. Negeri Sakura juga dikenal memiliki kultur budaya yang kuat meski arus globalisasi dan modernisasi mengalir sangat deras.

Pendidikan di Jepang - akenoyuki.wordpress.com

di Jepang - akenoyuki.wordpress.com

 

Sayangnya, di balik segala modernitas dan kemajuan, pendidikan di Jepang ternyata menyisakan sisi kelam. Banyak yang berpendapat bahwa sistem pendidikan di Jepang tidak cukup baik bagi siswa maupun mahasiswa. Akibat sistem pendidikan yang buruk, tingkat depresi remaja di Jepang pun cukup tinggi. Menurut data WHO, mulai tahun 1990 hingga 2012, angka bunuh diri remaja usia 15 tahun hingga 24 tahun di Jepang cenderung meningkat, hampir 16 persen, yang menjadikannya tertinggi di dunia.

Tingginya tingkat bunuh diri remaja di Jepang salah satunya disebabkan sistem pendidikan yang semrawut. Hal pertama yang terjadi ketika seorang siswa memasuki usia SMP adalah proses kritik diri. Siswa dibimbing untuk kehilangan rasa percaya diri dan ego mereka dengan aturan yang ketat serta tugas-tugas. Dengan cara ini, remaja dicegah untuk memberontak terhadap mentor mereka. Aturan ketat ini tidak hanya berlaku di lingkungan sekolah, melainkan juga di kehidupan sehari-hari.

Beberapa aturan ketat yang dialami selama masa pendidikan di sekolah adalah:

  • Tidak diperbolehkan melakukan kencan.
  • Aktivitas tidak diperbolehkan tanpa persetujuan kepala sekolah
  • Pekerjaan paruh waktu diperbolehkan jika situasi keuangan buruk. Dalam hal ini, siswa perlu izin dari kedua orang tua, wali kelas, dan kepala sekolah, bersama dengan review yang ketat dari kontrak kerja.
  • Tidak diperkenankan bertemu lawan jenis, selain untuk kegiatan akademis, kegiatan ekstrakurikuler, dan pemeriksaan.
  • Traveling tidak diperbolehkan tanpa izin dari otoritas sekolah. Ketika disetujui, seseorang harus bertindak sesuai jadwal yang disetujui oleh sekolah.
  • Tidak boleh makan di ruang publik, bahkan ketika subjek sudah berada di luar lingkungan sekolah.
  • Rute ke sekolah harus diserahkan dan siswa hanya dapat bepergian setiap hari dari dan ke sekolah.
  • Pakaian harus mengikuti aturan sekolah, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademis.
  • Kepemilikan smartphone tidak diperbolehkan. Jika ingin berkomunikasi dengan orang tua, ponsel yang digunakan harus model lama.

Selain aturan-aturan ketat tersebut, cukup banyak hukuman fisik yang diterima siswa, baik dari orang tua maupun guru. Beberapa siswa dipukuli guru karena hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Di Jepang, juga sering muncul berita seorang siswa dipukuli oleh guru hingga mati hanya karena lupa membawa sesuatu atau bersin ketika guru menerangkan.

Beberapa mungkin bertanya, mengapa tidak melakukan home schooling atau menemukan sekolah alternatif? Home schooling merupakan sesuatu yang masih ilegal di Jepang, setidaknya hingga detik ini. Sementara, sekolah alternatif seperti sekolah sarjana muda internasional dan sekolah seni memang telah tersedia, namun jumlahnya masih minim.

Ada beberapa slogan di Jepang untuk menyindir sistem pendidikan yang kaku tersebut, di antaranya:

  • 水木! “Mon, Mon, Tue, Wed, Thur, Fri, Fri!”
  • , ! “Jangan pernah menginginkan sesuatu, sampai kemenangan!”
  • ! “Lanjutkan! 100 juta bola api!”

Semuanya adalah slogan yang sering digunakan selama Perang Pasifik, dan digunakan sebagai sindiran untuk menggambarkan situasi sekarang. Slogan pertama berarti untuk bekerja tanpa akhir pekan. Yang kedua berarti untuk tidak pernah menginginkan apa-apa sampai kemenangan. Sementara, slogan ketiga berarti seluruh penduduk harus mati untuk kemenangan.

Baca juga:  Wisma Jerman, Pusat Belajar Bahasa, Budaya, dan Ekonomi Jerman di Surabaya
author
No Response

Leave a reply "Sistem Pendidikan di Jepang Bobrok, Tingkat Bunuh Diri Remaja Tinggi"