Definisi, Fungsi, dan Macam-Macam Stasiun Cuaca

Aktivitas manusia sehari-hari, salah satunya, turut dipengaruhi cuaca. Jika cuaca sedang baik, maka kemungkinan besar aktivitas yang dilakukan sepanjang hari itu juga berjalan baik. Namun sebaliknya, cuaca yang buruk dapat menyebabkan sebagian aktivitas manusia terganggu. Karena itulah, kondisi cuaca pada saat-saat tertentu sangat penting untuk diketahui.stasiun-cuaca

Untuk kepentingan tersebut, didirikan stasiun-stasiun cuaca di seluruh dunia. Stasiun cuaca ini adalah stasiun pada permukaan tanah untuk mengamati kondisi udara dan cuaca. Jaringan stasiun cuaca pertama kali didirikan di Perancis pada tahun 1855, setelah ilmuwan Le Verrier menunjukkan bagaimana kapal perang Perancis yang tenggelam akibat badai yang semestinya bisa diselamatkan. Le Verrier menjelaskan bagaimana jalur badai dapat dilacak sehingga kapal bisa berlayar dengan selamat.

Untuk meramalkan cuaca tersebut, para ahli meteorologi menggunakan yang dikumpulkan dari seluruh dunia. ini berdasarkan pada pengamatan yang dilakukan pada waktu yang sama setiap hari, di stasiun-stasiun cuaca dan tempat lainnya menggunakan berbagai macam cara.

Data yang dicatat antara lain suhu dan tekanan udara, kelembapan udara (titik embun), perubahan tekanan dalam tiga jam terakhir, tekanan dan arah angin, keadaan langit, keadaan dan jenis awan, serta curah hujan. Nantinya, data-data ini digunakan untuk meramalkan cuaca dalam 24 jam, seminggu, satu bulan atau lebih yang akan datang.

Di negara-negara yang sudah maju, keberadaan stasiun cuaca sudah cukup banyak. Stasiun cuaca bisa berjarak 50 kilometer satu sama lain di daerah yang dihuni banyak orang. Sementara di daerah yang jarang penduduknya atau negara yang kurang berkembang, stasiun cuaca bisa berjarak lebih dari 1.000 kilometer satu sama lain.

Berdasarkan ketentuan , stasiun cuaca dikategorikan dalam empat tingkat:

  • Stasiun tingkat I adalah stasiun utama, yang dilengkapi dengan alat meteorologi lengkap dan alat-alat yang bisa mencatat sendiri. Di stasiun tingkat I dilakukan pengamatan cuaca setiap jam setiap hari.
  • Stasiun tingkat II atau stasiun pelengkap, dilengkapi dengan alat-alat meteorologi lengkap, dan sekurang-kurangnya melakukan pengamatan semua unsur meteorologi 3 kali setiap harinya.
  • Stasiun tingkat III dilengkapi dengan alat-alat meteorologi kecuali alat ukur tekanan dan kelembapan dan tidak dilengkapi dengan alat yang dapat mencatat sendiri. Di sini, dilakukan pengamatan sekurang-kurangnya 3 kali setiap harinya.
  • Stasiun tingkat IV umumnya hanya dilengkapi dengan alat ukur endapan atau hujan. Selain mengukur hujan, juga mengamati peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan hujan, misalnya kabut, hujan es, guntur, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, kegiatan pengamatan cuaca sudah dilakukan pada tahun 1758, meski tidak dilakukan secara terus-menerus. Saat itu, seorang nahkoda kapal yang sedang berlabuh di Jakarta sedang mengamati suhu dan tekanan atmosfer di Jakarta. Kemudian pada tahun 1778, dilakukan perhitungan hari hujan di Jakarta, pengamatan badai di Laut Banda, serta pengamatan cuaca laut oleh Vessels Gouverments Marine Jakarta.

Kemudian, awal pengamatan tetap mengenai cuaca terealisasi pada 1 Januari 1866. Saat itu, dilakukan pengamatan meteorologi setiap jam di sebuah gedung yang sekarang beralamat di Jalan Arief Rahman Hakim No. 3. Saat itu, pengamatan dilakukan oleh Pemerintah Belanda bernama Batavia Magnetisch en Meteorologisch Obsevatorium, yang di dalamnya terdapat lima orang pegawai pribumi (Indonesia).

Baca juga:  Anak Laki-Laki Berumur 11 Tahun ‘Menyulap’ Boneka Beruang Menjadi Mata-mata

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*