Penderitaan & Bentuk Perlawanan Masyarakat Gaza Terhadap Serangan Tentara Israel

Serangan Tentara Israel di Gaza - internasional.kompas.com
Serangan Tentara Israel di Gaza - internasional.kompas.com

Gaza membara. Roket-roket menderu di tengah kota selatan Palestina tersebut. Pesawat tempur tentara Israel pun meraung-raung di atas langit Gaza untuk mencari militan Hamas, yang menjadi sasaran operasi.

Militer Israel mengatakan selama pertempuran, pihaknya telah menyerang lebih dari 1.160 sasaran di Gaza. Tempat itu termasuk peluncur roket, pabrik senjata, dan fasilitas penyimpanan dan -rumah yang dinilai telah menjadi pusat komando militan Hamas untuk mengarahkan serangan roket ke Israel.

Bahkan, kata militer Israel, para militan Hamas secara sistematis menggunakan masjid untuk menyembunyikan persenjataan dan membangun jaringan terowongan bawah tanah. Hal ini dinilai militer Israel sebagai penyalahgunaan situs suci. Untuk memburu militan Hamas, Israel menggunakan senjata yang dilarang oleh internasional. Tempat-tempat seperti masjid merupakan bagian dari jaringan teror yang luas tertanam jauh di dalam populasi sipil yang sengaja dilakukan oleh organisasi teror.

Serangan Tentara Israel di Gaza - www.liputan6.com
Serangan Tentara Israel di Gaza – www.liputan6.com

Memasuki hari keenam agresi militer, 167 warga telah meregang nyawa. Mereka tewas dihantam mortir dan rudal Israel. PBB melansir 77 persen korban adalah warga sipil yang kebanyakan dari anak-anak dan wanita. Dunia internasional pun mengecam. Namun Israel bergeming, dan terus melancarkan serangan ke Gaza.

Di balik penyerangan Gaza, banyak kisah pilu yang dirasakan para korban. Kisah-kisah itu terekam dalam sejarah penyerangan mematikan ini. Dunia internasional pun menegaskan aksi Israel telah melampaui batas dan harus dihentikan.

Baca juga:  NASA Tampilkan Karbondioksida di Atmosfer via Visualisasi 3D

Seperti yang dialami oleh seorang gadis kecil bernama Bissam Dhaher. Pasukan Israel membom dan membunuh kedua orang tuanya pada tahun 2014. Dan, pada tahun 2018, temannya, Yasser Murtaja, ditembak mati oleh penembak jitu Israel. Terakhir kali Bissam Dhaher bersama orang tuanya adalah pada tahun 2014. Pada saat itu, ia masih berumur 7 tahun ketika rumahnya di distrik Shujaiya di Gaza yang diblokir terkena tembakan roket Israel, membunuh kerabat dekatnya termasuk orang tuanya.

Pada saat bom jatuh di rumahnya, Dhaher terperangkap di bawah reruntuhan selama enam jam. Kisah Dhaher tentang kelangsungan hidup dan kehilangan diliput oleh seorang wartawan lokal Yasser Murtaja, yang juga membantu dalam penyelamatannya dan kesembuhannya.

Kini Dhaher, berusia 11 tahun. Lagi-lagi ia harus menerima pukulan lagi tahun 2018, ketika sniper Israel menembak mati temannya Murtaja, ketika warga setempat menggelar protes selama enam minggu di Gaza.
Ada banyak kerugian yang diderita oleh korban Gaza, beberapa di antaranya adalah kehilangan tempat tinggal. Sekitar dua juta warga Palestina, lebih dari separuh dari mereka adalah pengungsi perang dan keturunan mereka. Gaza telah menderita kemiskinan parah dan infrastruktur ambruk di bawah blokade 12 tahun oleh Israel dan Mesir.

Sejak 30 Maret, warga Palestina di Jalur Gaza telah memprotes di sepanjang pagar terhadap Israel mengenai blokade dan pendudukan atas tanah mereka dan keluarga mereka yang diusir dari tujuh dekade lalu. Sebagai tanggapan, Israel telah menewaskan lebih dari 130 orang Palestina dan melukai ribuan orang.

Baca juga:  Viral, Nanas Tertinggal di Atas Meja Tiba-tiba Menjadi Karya Seni
Serangan Tentara Israel di Gaza - internasional.kompas.com
Serangan Tentara Israel di Gaza – internasional.kompas.com

Dhaher tidak sendirian, masih banyak korban lain yang mungkin menderita hal yang sama, kehilangan keluarga dan teman. Satu di antara ribuan korban yaitu Farah Barker. Melalui akun Twitternya, gadis itu menceritakan pengalaman, kisah sedih, kekhawatiran, horor, dan teror yang ia rasakan di kampung halamannya, Gaza, Palestina.

Baker menceritakan bahwa setiap harinya ia mendengar suara roket dan melihat percikan api seperti hujan deras. Tetapi, walaupun keadaan memburuk, ia tidak akan menyerah untuk bertahan.

Apa yang dilakukan Farah menuai simpati ribuan pengikut, pesannya juga diposting ulang di Twitter, terutama setelah ia mengisahkan teror yang ia rasakan malam itu, saat ia berada di dalam , sementara roket-roket membombardir Gaza. Langit merah membara.

Remaja perempuan itu memposting ekspresi kemarahannya. Ia mengunggah video yang memperlihatkan api dan asap hitam akibat ledakan di langit malam, suara bom dan rudal yang menggelegar saat melesat di udara. Bom-bom yang dijatuhkan menghantam target yang sama sekali tidak bisa diduga seperti rumah warga, RS, masjid, pemakaman, jalan raya, sekolah PBB yang digunakan sebagai lokasi pengungsian, tepi pantai, warung tempat orang nonton bola, atau taman tempat anak-anak sedang bermain.

Baca juga:  TRANSLINE Tawarkan Travel Bersistem Feeder dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Bandung

Tidak hanya cerita mengenai penderitaan warga Gaza, di antara mereka ada yang melakukan aksi unjuk rasa. Aksi itu tidak hanya dilakukan oleh para pria Palestina, tetapi juga kaum hawa. Tembakan gencar peluru dan gas air mata oleh tentara Israel tidak menghalangi perempuan demonstran untuk bergabung dalam protes mingguan di daerah perbatasan Jalur Gaza.

Ribuan orang Palestina berkumpul di bagian timur Jalur Gaza untuk menggelar protes guna menentang Israel. Sebagai bagian dari pertemuan terbuka enam-pekan, rakyat Palestina menggelar lima pertemuan terbuka di bagian timur Jalur Gaza di sepanjang perbatasan dengan Israel untuk berdemonstrasi.

Pawai itu direncanakan mencapai puncaknya setelah peringatan ke-70 kemerdekaan Israel, tetapi diperingati oleh rakyat Palestina sebagai Hari Nakba, atau Hari Bencana. Pada hari yang telah ditentukan, perempuan melemparkan batu ke arah tentara Israel, sementara yang lain mengibarkan bendera Palestina di sepanjang pagar pembatas.

Perempuan lain membawa ban karet dan mengangkutnya untuk demonstran yang membakar ban itu guna menghalangi daya pandang tentara Israel guna menghindari jatuhnya korban jiwa di kalangan pemrotes.

Salsabil, yang berasal dari pengungsi dari Kota Jaffa di Israel, mengatakan demonstrasi damai itu memerlukan keikutsertaan semua unsur . Perempuan muda tersebut mengatakan ia tahu aksi protes itu berbahaya untuknya, tapi ia menegaskan bahwa penting untuk semua perempuan terlibat dalam masalah nasional mereka.