Pengadilan Perancis Tangguhkan Larangan Pemakaian Baju Renang Muslimah ‘Burkini’

baju renang muslimah - beritalangitan.com

Seorang muslimah memang berkewajiban untuk menutup auratnya. Namun permasalahan timbul saat -wanita muslim hendak melakukan yang mereka senangi, misalnya saja berenang. Tidak banyak pakaian renang yang bisa mereka pakai tanpa harus membuka aurat.

baju renang muslimah - beritalangitan.com
baju renang muslimah – beritalangitan.com

 

Sampai akhirnya desainer asal Australia kelahiran Lebanon bernama Aheda Zanetti merancang pakaian renang khusus hijaber bernama ‘burkini’. Tujuan Zanetti merancang burkini lebih dari satu dekade silam hanyalah satu, agar anak-anak beragama tetap berkesempatan untuk melakukan olahraga yang mereka sukai.

“Aku menciptakannya untuk menolong anak-anak muslim yang telah kehilangan kesempatan untuk les renang dan olahraga lainnya,” ujar Zanetti. “Tidak ada alasan lain selain memenuhi kebutuhan mereka.”

Jika Anda belum tahu, burkini merupakan singkatan dari ‘burqa’ dan ‘bikini’. Burkini pada dasarnya seperti wetsuit yang tertutup dan sebagian wanita muslim memakainya untuk alasan pribadi atau religius.

Kemunculan burkini meraih kesuksesan besar, karena menurut Zanetti, “itu menjadi sebuah keajaiban untuk perempuan dan anak-anak perempuan muslim. Burkini membuat mereka percaya diri untuk lebih aktif.”

Tetapi desain baju renang tersebut sedang menjadi kontroversi di Perancis. Perancis mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dikenakan oleh wanita, termasuk salah satu larangan penggunaan burkini.

Pada pertengahan Agustus, beberapa kota di Perancis menerapkan larangan memakai busana renang burkini di pantai-pantai setempat. Mereka yang melarang burkini menganggap bahwa bahan kainnya menjadi ancaman untuk orang lain. Padahal sebenarnya tidak, sebab burkini hanyalah sebuah pakaian renang.

Di Cannes larangan berbunyi, “akses ke pantai untuk berenang terlarang bagi siapa saja yang tak memiliki pakaian berenang yang menghormati adat istiadat maupun sekularisme.”

Karena larangan yang dianggap tidak masuk akal dan tidak menghormati hak-hak wanita tersebut, sejumlah netizen mulai meramakan media dengan hashtag #WearWhatYouWant di Twitter. Hashtag tersebut dibuat untuk mempromosikan gagasan bahwa wanita harus diperbolehkan memutuskan sendiri tentang cara berpakaian mereka.

Beruntung larangan soal burkini ternyata telah berhasil digagalkan untuk sementara ini. Pada 26 Agustus 2016 kemarin sebuah pengadilan di Perancis menangguhkan larangan di Villeneuve-Loubet (dekat Nice). Pengadilan memutuskan bahwa larangan semacam ini baru dapat diterapkan jika terbukti berisiko untuk publik. Namun selama ini tidak ada risiko yang mengancam keselamatan publik.

Meski demikian, keputusan pengadilan ini masih belum mempengaruhi larangan yang ada di 14 wilayah lainnya. Namun preseden ini kemungkinan dapat membuat kondisi jadi berbalik dalam waktu dekat. Keputusan pengadilan tersebut juga dipuji oleh Amnesty International.

Baca juga:  Deutsche Bank, Bank Global Jerman yang juga hadir di Indonesia